Tampilkan postingan dengan label kisah teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah teladan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Desember 2009

 

KESABARAN BERBUAH KEINDAHAN

Kesabaran ada batasnya, tapi kesabaran akan memberi kita yang terbaik dalam kehidupan….
Aku minta dari Tuhan setangkai bunga segar,
Tapi diberiNya kaktus berduri dan jelek….inspirasi-kaktus
Aku minta kupu-kupu,
diberiNya ulat jelek dan berbulu…..motivasi-ulat
Aku kecewa dan marah pada Tuhan… dan tidak peduli lagi dengan Tuhan dan permintaanku…
Tapi saat aku sudah tidak peduli lagi… tiba-tiba…
kaktus itu berbunga indah sekali….motivasi-kaktus
dan ulat itu menjadi kupu-kupu yang begitu indah dan cantik..inspirasi-kupukupu
Itulah janji Tuhan, selalu indah pada waktunya,,,
itulah buah kesabaran kita….
bersyukurlah selalu untuk semua hal yang kita terima dalam hidup ini.


Karena Ikhlas 1 dirham Diganti 120.000 Dirham

Dari Al-Fudhail bin Iyadh, ia berkata, seorang pria berncerita padaku:
Ada laki-laki yang berjualan benang tenun, ia menjual benang tenun itu satu dirham untuk membeli kebutuhan makan keluarganya. Ketika pulang dari pasar, ia melewati dua orang laki-laki yang sedang bertengkar karena memperebutkan uang satu dirham. Maka, agar tidak bertengkar ia berikan uang satu dirham kepada keduanya, sehingga iapun tak memiliki sesuatu lagi.
Sesampai di rumah ia mengabarkan pada istrinya apa yang baru saja terjadi. Sang isteripun lalu mengumpulkan perkakas rumah tangga untuk digadaikan demi memenuhi kebutuhan hidupnya hari itu, tetapi barang-barang tersebut tidak laku.
Tiba-tiba ia berpapasan dengan pria yang membawa ikan yang menebar bau busuk. Orang itu berkata, “Engkau membawa sesuatu yang tidak laku, demikian pula dengan yang saya. Anda mau menukarnya dengan barang (daganganku)?” Ia pun mengiakan.
Lalu ikan itu dibawanya pulang untuk dimasak istrinya karena mereka hampir tak berdaya lagi karena lapar. Lalu dibelahnya perut ikan tersebut. Namun tiba-tiba sebuah mutiara keluar dari perut ikan tersebut
Wanita itu pun berkata gembira, ‘Suamiku, dari perut ikan ini keluar sesuatu.” Suaminya berkata, “Perlihatkanlah kepadaku!” Maka ia melihat sesuatu yang tak pernah dilihatnya sepanjang hidupnya. Pikirannya melayang, hatinya berdebar.
“Berapa nilai mutiara ini?” Tanyanya dalam hati. Iapun lalu disuruh istrinya menjualnya kepada pedagang mutiara yang ada di kotanya. Ia lalu mengambil mutiara itu dan segera pergi ke tempat para penjual mutiara.
Ia menghampiri kawannya yang ahli di bidang mutiara. Kawannya memperhatikan barang itu begitu lama, kemudian berkata, “Aku hargai barang itu 120.000 dirham. Dan saya kira, tidak ada orang yang berani membeli di atas harga itu. Ia pun setuju menjualnya. Maka pada hari itu, ia membawa dua belas kantung uang. Pada masing-masingnya terdapat 10.000 dirham. Uang itu pun ia bawa ke rumahnya untuk disimpan.
Tiba-tiba di pintu rumahnya ada seorang fakir yang meminta-minta. Maka ia berkata, “Saya punya kisah, karena itu masuklah saya akan menceritakannya kepadamu.” Orang itu pun masuk. Setelah bercerita tentang kisahnya ia lalu berkata. “Ambillah sebagian dari hartaku ini”. Maka, orang fakir itu mengambil enam kantung uang dan dibawanya.
Setelah agak menjauh, orang fakir itu berkata, “Sebenarnya aku bukanlah orang miskin atau fakir. Tetapi Alloh Ta’ala telah mengutusku kepadamu, yakni Dzat yang telah mengganti satu dirhammu dengan 20 qirath. Dan yang diberikanNya kepadamu baru-baru ini adalah hanya satu qirath daripada-Nya, dan Dia masih menyimpan untukmu 19 qirath yang lain.” Wallohualam.

Minggu, 29 November 2009

Kisah Teladan Wanita Shalehah




Ummu Sulaim berkata kepada puteranya: ”Wahai Anas, ucapkanlah kalimat Laailaahaillallaah (Tidak ada Tuhan selain Allah). Ucapkanlah kalimat Asyhadu anna Muhammadar-Rasuulullaah (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah).” Anas pun mengucapkan kalimat-kalimat tersebut. Mendengar itu, Abu Anas –ayah Anas- berkata: ”Janganlah kamu merusak anakku dengan ajaran seperti itu!”
Ummu Sulaim menjawab: ”Tidak, aku tidak merusaknya!” Tidak lama kemudian, Abu Anas keluar dari rumahnya. Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan seorang musuh. Dia pun dibunuh oleh musuh tersebut. Mendengar berita kematian suaminya (yang masih kafir) itu, Ummu Sulaim berkata: ”Tidak mengapa dia terbunuh, sungguh aku tidak akan menyapih Anas hingga dia benar-benar telah melepaskan payudaraku (berhenti menyusu). Aku tidak akan menikah lagi dengan laki-laki lain hingga dia menyuruhku untuk menikah kembali.”
Saat Anas berusia 10 tahun, Ummu Sulaim berkata kepada Rasulullah saw.: ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya tidak ada seorang laki-laki dan wanita pun dari kaum Anshar kecuali mereka memberikan kepadamu suatu hadiah. Sementara aku tidak mampu untuk memberimu hadiah kecuali hanya anakku ini. Ambillah anakku ini agar ia dapat membantu meringankan pekerjaanmu!”
Meskipun singkat, kisah di atas mengandung pelajaran yang sangat berharga bagi kaum Muslimin, terutama bagi kaum wanita. Apa yang dilakukan oleh Ummu Sulaim terhadap anaknya merupakan gambaran dari sosok seorang sahabat wanita yang memperlakukan anaknya dengan baik ketika sang anak mulai tumbuh dewasa. Dia mulai mengajarkan syahadat kepada anaknya saat sang anak mulai bisa berbicara. Dia mulai memperkenalkan ajaran-ajaran Islam kepada anaknya sebelum otak anak itu dijejali dengan pengetahuan-pengetahuan lain.
Sungguh pelajaran yang sangat luar biasa, sebuah pelajaran yang patut dicontoh oleh wanita-wanita pada zaman sekarang ini. Bila kita perhatikan, banyak wanita yang tidak melakukan hal seperti itu. Mereka lupa untuk mengajarkan ajaran-ajaran Islam kepada anak-anak mereka sejak kecil. Mereka lebih mendahulukan pengetahuan-pengetahuan lain daripada pengetahuan-pengetahuan agama. Sehingga saat dewasa, anak-anak itu kurang mengenal ajaran-ajaran Islam. Bahkan, tidak sedikit yang tidak bisa membaca Al-Qur`an. Padahal, banyak di antara mereka yang menguasai berbagai bidang keilmuan. Akibatnya, kenakalan remaja pun semakin marak di kalangan masyarakat.
Selain itu, Ummu Sulaim telah memilihkan teman yang baik untuk anaknya, yaitu Baginda Rasulullah saw.. Berkat upaya itu, Anas dapat belajar dari Rasulullah yang merupakan suri tauladan bagi umat Islam, serta dapat tumbuh dewasa di lingkungan yang baik. Hasilnya, Anas pun tumbuh dewasa menjadi anak yang shaleh, yang berbaik kepada orangtuanya. Anaslah yang menikahkan kembali ibunya dengan Abu Thalhah, setelah laki-laki itu masuk Islam.
Sayangnya, upaya Ummu Sulaim ini sudah banyak ditinggalkan oleh kaum ibu pada zaman sekarang ini. Mereka tidak lagi memperhatikan soal hubungan pertemanan anak-anak mereka. Mereka tidak lagi peduli dengan siapa anak-anak mereka bergaul. Mereka lupa bahwa pendidikan moral tidak hanya didapat di rumah ataupun di sekolah, tetapi juga didapat melalui hubungan pertemanan. Bahkan, terkadang hubungan pertemanan ini menjadi faktor yang sangat dominan dalam membentuk moral atau akhlak seorang anak. Wallaahu A’lam….

Selasa, 24 November 2009

Mengais Keajaiban Cinta

Kategori Kisah Teladan by Sutikno bin Tumingan
Jika Anda memiliki anak pertama yang berumur 2.5 tahun, lahir setelah 17 tahun menikah, setelah Anda sembuh dari kemandulan. Anak Anda tersebut mengalami:
  • bermasalah dalam pembuluh darah di liver,
  • jantung berhenti berdetak selama 45 menit,
  • pendarahan hebat yang membuat jantungnya berhenti berdetak untuk yang kedua kali
  • pendarahan di liver, sembuh, pendarahan lagi berulang-ulang sampai 6 kali,
  • tumor dan radang otak,
  • radang ginjal,
  • radang pada selaput kristal yang mengitari jantung,
penyakit tersebut hadir silih berganti, terus menerus dalam waktu 6-8 bulan…, Apa yang Anda lakukan?
Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al ‘Arifi dalam bukunya ‘Jangan Takut Sakit’ (hal 111-117, penerbit Fawaid, -dengan sedikit penyesuaian) menuturkan sebuah kisah:

Dr. Abdullah bercerita,
“Ada seorang perempuan yang datang kepada saya dengan menyeret langkah-langkah kakinya, ia menggendong anaknya yang tersiksa oleh penyakit.
Ia adalah seorang ibu yang berusia mendekati empat puluh tahun. Ia memeluk anaknya yang masih kecil ke dadanya, seakan-akan anak tersebut adalah potongan tubuhnya. Kondisi anak itu memprihatinkan, terdengar satu dua tarikan nafas dari dadanya.
Saya bertanya kepada si ibu, ‘Berapa umurnya?’
Ia menjawab, ‘Dua setengah tahun.’
Kami melakukan pemeriksaan kepada anak itu, ternyata anak itu bermasalah dalam pembuluh-pembuluh darah di livernya.
Kami segera melakukan tindakan operasi kepadanya, dan dua hari setelah operasi, anak itu sudah sehat. Sang ibu pun tampak gembira dan riang.
Ketika melihat saya, ia bertanya, ‘Kapan anak saya boleh pulang dok?’
Tatkala saya hampir menulis surat keterangan pulang, tiba-tiba anak kecil itu mengalami pendarahan hebat di tenggorokannya, sehingga menyebabnya jantungnya berhenti berdetak selama 45 menit.
Kesadaran anak tersebut sudah hilang. Lalu para dokter berkumpul di dalam ruangannya. Beberapa jam telah berlalu, namun mereka tidak sanggup membuatnya tersadar.
Salah seorang teman saya segera mendatangi ibunya dan berkata kepadanya, ‘Kemungkinan anak Anda mengalami kematian otak (koma) dan saya mengira bahwa ia tidak memiliki harapan untuk hidup.’ Saya menoleh kepada teman saya tersebut sambil mencelanya karena ucapannya tersebut.
Lalu saya melihat kepada si ibu, demi Allah, perkataan teman saya itu tidak menambah selain ia mengucapkan, ‘Penyembuh adalah Allah, Pemberi kesehatan adalah Allah.’
Kemudian ia terus menerus membaca, ‘Saya memohon kepada Allah jika ada kebaikan pada kesembuhannya, maka sembuhkanlah ia.’
Setelah itu ia diam dan berjalan menuju sebuah kursi kecil, lalu duduk. Kemudian ia mengambil mushaf kecilnya yang berwarna hijau dan membacanya.
Para dokter pun keluar, saya juga keluar bersama mereka. Saya berjalan melewati anak itu, kondisinya belum berubah, sesosok tubuh yang terbujur kaku laksana mayat di atas tempat tidur putih. Lalu saya menoleh kepada ibunya, keadaannya juga masih tetap seperti sebelumnya.
Satu hari ia membacakan Al-Qur’an kepada anaknya; satu hari membacanya dan satu hari setelannya mendoakannya. Beberapa hari kemudian, salah seorang perawat perempuan memberitahu saya bahwa anak itu sudah mulai bergerak, saya langsung memuji Allah.
Saya berkata kepada si ibu, ‘Wahai Ummu Yasir, saya sampaikan kabar gembira kepada Anda bahwa keadaan Yasir mulai membaik.’
Ia hanya mengucapkan satu ucapan sambil menahan air matanya, ‘Alhamdulillah, Alhamdulillah.’
Dua puluh empat jam kemudian kami dikejutkan dengan kondisi si anak, ia kembali mengalami pendarahan hebat seperti pendarahan sebelumnya, dan jantungnya berhenti berdetak untuk kedua kalinya.
Tubuhnya yang kecil kelihatan lelah, gerakannya telah hilang. Salah seorang dokter masuk untuk melihat kondisinya secara langsung, lalu saya mendengarnya berucap, ‘Mati otak.’
Sang ibu terus menerus mengulang-ulang, ‘Alhamdulillah, atas setiap keadaan, penyembuh adalah Allah.’ Beberapa hari kemudian, anak itu sembuh kembali. Namun, baru berlalu beberapa jam, ia kembali mengalami pendarahan di dalam livernya, lalu gerakannya berhenti.
Beberapa hari kemudian ia sadar lagi, lalu kembali mengalami pendarahan baru, kondisinya aneh, saya tidak pernah melihat kondisi seperti itu selama hidup saya, pendarahannya berulang-ulang hingga enam kali, sedangkan dari lisan ibunya hanya keluar ucapan, ‘Segala puji bagi Allah, Penyembuh adalah Rabb-ku, Dia-lah Penyembuh.’
Setelah beberapa kali pemeriksaan dan pengobatan, para dokter spesialis batang tenggorokan berhasil mengatasi pendarahan, Yasir mulai bergerak-gerak lagi. Tiba-tiba, Yasir kembali diuji dengan bisul besar (tumor) dan radang otak.
Saya sendiri yang memeriksa keadaannya. Saya berkata kepada ibunya, .’Keadaan anak Anda mengenaskan sekali dan kondisinya berbahaya.’ la tetap mengulang-ulang ucapannya, ‘Penyembuh adalah Allah’
la mulai membacakan Al-Qur’an kepada buah hatinya. Setelah dua minggu, tumor itu tetap ada. Dua hari kemudian, anak tersebut mulai sembuh, kami memuji Allah karenanya.
Sang ibu bersiap-siap untuk pulang, namun satu hari kemudian, tiba-tiba anak tersebut mengalami radang ginjal parah yang dapat menyebabkan gagal ginjal kronis dan hampir menyebakan kematiannya.
Sementara si ibu tetap berpegang teguh, bertawakal dan berserah kepada Rabb-nya serta terus mengulang-ulang, ‘Penyembuh adalah Allah.’ Lalu, ia kembali ke tempatnya dan membacakan Al-Qur’an kepada anaknya.
Hari-hari berlalu, sedangkan kami terus berusaha memeriksa dan mengobati secara maraton hingga berlangsung sampai tiga bulan, kondisinya pun membaik, segala puji hanya bagi Allah.
Akan tetapi, kisah ini belum berhenti sampai di sini saja, si anak kembali diserang penyakit aneh yang belum pernah saya kenal selama hidup.
Setelah empat bulan, ia terserang radang pada selaput kristal yang mengitari jantung, sehingga memaksa kita untuk membuka sangkar dadanya dan membiarkannya terbuka untuk mengeluarkan nanah.
Ibunya hanya melihat kepadanya sambil berucap, ‘Saya memohon kepada Allah agar menyembuhkannya, Dia adalah penyembuh dan pemberi kesehatan.’ Lalu, ia kembali ke kursinya dan membuka mushafnya.
Terkadang saya melihat kepada ibu tersebut, sementara mushaf ada di depannya, ia tidak menoleh ke sekelilingnya. Kemudian saya masuk ke ruang refreshing, maka saya melihat banyak pasien dengan berbagai penyakit dan para penunggu mereka.
Saya melihat sebagian dari para pasien tersebut berteriak-teriak dan yang lainya mengaduh-aduh, sedangkan para penunggunya menangis, dan sebagian dari mereka berjalan di belakang para dokter.
Sementara ibu itu tetap berada di atas kursinya dan di depan mushafnya, tidak berpaling kepada orang yang berteriak dan tidak berdiri menghampiri dokter serta tidak berbicara dengan seorang pun.
Saya merasa bahwa ia adalah gunung, setelah berada selama enam bulan di ruang refreshing. Saya berjalan melewati anaknya, saya melihat matanya terpejam, tidak berbicara dan tidak bergerak, dadanya terbuka.
Kami mengira bahwa ini merupakan akhir kehidupannya, sedangkan sang ibu tetap dalam keadaannya, membaca Al-Qur’an. Seorang penyabar yang tidak mengeluh dan tidak mengaduh.
Demi Allah, ia tidak mengajak saya bicara dengan sepatah katapun dan tidak pula bertanya kepada saya tentang kondisi anaknya. Ia hanya berbicara setelah saya mulai mengajaknya bicara tentang anaknya tersebut.
Adapun usia suaminya sudah lebih dari empat puluh tahun. Terkadang suaminya menemui saya di dekat anaknya, ketika ia menoleh kepada saya untuk bertanya, istrinya menarik tangannya dan menenangkannya serta mengangkat spiritnya dan mengingatkannya bahwa sang Penyembuh adalah Allah.
Setelah berlalu dua bulan, keadaan anak tersebut sudah membaik, lalu kami memindahkannya ke ruangan khusus anak-anak di rumah sakit, kondisinya sudah mengalami banyak kemajuan.
Keluarganya pun mulai membiasakan kepadanya berbagai jenis terapi dan pelatihan. Setelah itu, anak tersebut pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki, ia melihat dan berbicara seakan-akan ia tidak pernah tertimpa sesuatu sebelumnya.
Maaf, kisah menakjubkan ini belum selesai, karena satu setengah tahun kemudian, ketika berada di ruang kerja saya, tiba-tiba suami wanita itu masuk menemui saya, sedangkan di belakangnya istrinya menyusulnya sambil menggendong bayi kecil yang sehat.
Ternyata si anak kecil itu sedang diperiksakan secara rutin di RS tersebut, mereka datang kepada saya untuk menyampaikan salam.
Saya bertanya kepada si suami, ‘Masya Allah, apakah bayi kecil ini adalah anak yang keenam atau ketujuh di dalam keluarga Anda?’ Ia menjawab, ‘Ini yang kedua, dan anak pertama kami adalah anak yang Anda obati setahun yang lalu. Ia merupakan anak pertama kami yang lahir setelah tujuh belas tahun kami menikah dan sembuh dari kemandulan.’
Saya menundukkan kepala, dan langsung teringat dengan gambaran ibunya ketika sedang menunggui anaknya. Saya tidak mendengar suara yang keluar darinya dan tidak melihat tanda kegelisahan pada dirinya.
Saya mengucap di dalam hati, ‘Subhanallah.’ Setelah tujuh belas tahun bersabar dan mencoba berbagai terapi kemandulan, lalu diberi rezeki dengan seorang anak laki-laki yang dilihatnya mati berkali-kali di hadapannya.
Akan tetapi, wanita tersebut hanya berpegang teguh pada kalimat ‘Laailaaha illallaah’ dan keyakinan bahwa Allah adalah Dzat Penyembuh dan Pemberi kesehatan. Subhanallah! Betapa besar tawakkal dan keimanan yang dimiliki wanita itu.”

Kisah di atas, meski bukan kisah para ulama, namun merupakan kisah nyata yang terjadi pada zaman kita.
Dimana posisi kita dibandingkan ibu dalam kisah tersebut?
Ya Allah, berilah kami kemudahan untuk bersabar, tawakkal, dan benar-benar berserah diri kepada-Mu, dalam setiap waktu, setiap keadaan, dan setiap tempat. Amiin.