Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Desember 2009

Syurga dibawah Telapak Kaki Ibu

Bagi anak yang masih kecil, ibu adalah segalanya.Bila ditanyakan padanya, siapa yang paling ia sayangi. Hampir semua anak akan menjawab, ibu. Wajar, karena hampir seluruh kebutuhannya bergantung pada ibu. Ia tidak peduli seperti apa ibunya. Baik, lemah lembut tutur bahasanya atau kasar dan keras hatinya. Ibu tetaplah orang yang paling dicintainya. Ketika ibu tak ada di sisinya, sang anak pasti kehilangan dan menangis.
Hanya saja, waktu akan cepat berlalu, anakpun dengan cepat bertambah usia. Dan hatinya tidak lagi “terkekang” oleh cinta seorang Ibu. Banyak “tawaran” cinta di luar rumah yang akan didapatnya. Seorang anak akan mulai menerjemahkan cinta sesuai dengan kebutuhannya. Bila cinta ibu kalah bersaing, tidak akan cukup air mata untuk mengembalikannya ke dalam pelukan.
Lebih Utama
Hakikat kodrati ibu, siapapun dan dimanapun, telah menjadikannya sosok yang tiada bandingannya. Bayangkan saja, sembilan bulan lamanya ia rela bersusah payah ‘menggendong’ buah hatinya kemanapun ia pergi. Makin hari bebannya pun makin berat. Belum lagi saat kelahiran si kecil, ibu rela mempertaruhkan nyawanya.
Lalu selama dua tahun, ibu menyusuinya, mengasuh, membelai dan membimbingnya hingga ia bisa mandiri. Ibulah yang pertama-tama mengajarkan berbagai kosa kata, warna, mendendangkan lagu, membacakan cerita, dan sebagainya. Ibu adalah sosok pertama yang mengenalkannya pada Sang Khalik dan mendekatkannya pada lingkungan. Begitu besar amanah yang dipikul seorang ibu.
Pernah suatu ketika nabi Muhammad Saw bertanya kepada seorang laki-laki : ”Apakah Anda sangat ingin masuk surga? Surga yang sangat anda inginkan itu terletak di bawah kaki para ibu.” Dengan tegas Rasul Saw bersabda : Aljannatu tahta aqdaamil ummahaati yang artinya surga itu terletak di bawah kaki ibu. Kata-kata tersebut menjadi semboyan kemegahan kaum ibu. Rasulullah Saw menunjukkan penghormatannya pada kaum ibu dan meninggikan kedudukan kaum ibu. Kisah kepahlawan seorang Ibu pun menjadi perhatian penting dalam tapak sejarah, seperti Al-Khansa yang sanggup memotivasi dan menghantarkan putra-putranya mati syahid atau Siti Masyithoh yang menerjemahkan kasih sayangnya dengan membawa putra-putranya “ikut” bersama menemui Khalik demi mempertahankan keimanannya.
Karena itulah Rasul Saw memerintahkan seluruh umatnya untuk menghormati wanita, sebagaimana sabdanya : Maa akramannisa a illa kariimu wa la ahaanahunna illa laiimun. Artinya, ‘Yang memuliakan wanita, hanyalah orang yang mulia, dan yang menghinakan wanita, hanyalah orang yang hina.’ Dan Islam menempatkan kewajiban berbakti kepada ibu melebihi kewajiban berbakti terhadap ayah. Dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu berkata: Seseorang datang kepada Rasulullah Saw dan bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?”Beliau menjawab, “Ibumu.”Tanyanya lagi, “Kemudian siapa?”
Beliau menjawab, “Ibumu.” Tanyanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, Ibumu” Kemudian tanyanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Bapakmu.”
(Muttafaq ‘alaih).
Permasalahannya adalah bagaimana agar anak-anak tumbuh menjadi anak-anak yang sholih yang bersikap baik pada orang tuanya, terutama ibunya dan menghormati kaum ibu. Inilah tanggung jawab kita.
Ibu Terbaik
”Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun.” (QS Luqman : 33)
Peringatan Allah tersebut mestinya menyadarkan kita agar segera ‘menolong’ anak-anak kita. Selama masih hidup, kita mesti bekerja keras menyelamatkan anak-anak agar tak tersentuh api neraka walau seujung rambut. Tidak mencukupkan diri sekedar menjadi ‘induk’ bagi anak-anak. Yang cukup memberi makan minum, menyiapkan tempat bernaung, memandikan. Dan anak pun tumbuh berkembang begitu saja. Bayi yang menggemaskan, lalu menjadi anak-anak yang masih lucu…kemudian berkembang menjadi pintar membangkang, dan jadi sosok yang menyebalkan. Alih-alih berbakti, malah suka meremehkan, mengejek dan memaki orang tua. Susah payah meregang nyawa saat melahirkan, banting tulang saat memenuhi kebutuhan anak, berbalas dengan pembangkangan. Sangat menyakitkan. Di dunia bagai musuh yang terus-menerus merongrong, di akhirat kelak bukannya menjadi tabungan atas kesholihannya, jusru mengantar ke neraka akibat kelalaian dalam pendidikan dan pengarahan.
Karena itu bersiaplah menjadi ibu terbaik bagi anak. Nikmatilah saat-saat mengandungnya. Meski segala kepayahan terasa melemahkan. Tanamkan rasa cinta pada anak dengan menyusuinya. Anak akan mendengar detak jantung ibunya, dan ia sudah bisa merasakan cinta ibu, luar biasa. Cobalah mengerti setiap reaksinya. Lakukan pendekatan paling baik ketika menyampaikan pesan. Dampingi saat anak dalam kesulitan. Asahlah kepribadiannya agar tumbuh menjadi bagian dari generasi terbaik.
Bukankah kita menginginkan anak-anak tumbuh menjadi anak yang istimewa, lalu apa yang membuat kita enggan mengupayakannya. Menemani bermain menjawab pertanyaannya yang tiada habis-habisnya. Sayang sekali bila kita lebih menuruti rasa lelah setelah seharian bekerja keras. Ketika bertemu dengan kerewelan anak, kita lebih memilih menghindarinya.
Ketika anak melakukan kesalahan, seringkali kita menakut-nakuti anak dengan kata-kata “Ridho Allah ada pada ridho Ibu lho”, “Surga berada di telapak kaki Ibu lho”. Padahal yang kita inginkan adalah kesholihannya, bukan ketaatan karena takut pada ibunya. Kelak bila ibu telah tiada, maka tak ada rasa takut dan tak ada pula ketaatan. Na’udzubillahi min dzalika.
Senantiasa kita ingat bahwa tugas utama ibu adalah mendidik anak-anaknya. Agar bisa mentransfer ilmu dan karakter penghuni surga kepada mereka. Agar hati mereka penuh dengan rasa rinda pada surga-Nya. Benar-benar tidak mudah, sewajarnya apabila ibu menuai pahala tak terputus dari anak-anak sholihnya.

Bangga Jadi Ibu Rumah Tangga

“Saya cuma ibu rumah tangga.” jawab seorang ibu dengan tersenyum malu, tatkala ditanya tentang pekerjaannya. Sungguh beda, bila ibu tadi memberikan jawaban yang lain seperti misalnya, “Saya adalah dokter, guru, karyawan atau lainnya…” Dan biasanya jawaban ini disertai dengan senyum bangga. Apakah menjadi ibu rumah tangga itu memalukan dan tidak membanggakan?
Memasak, cuci, seterika, bersih-bersih rumah, bermain dengan anak, menyuapi makanan, siapa sih yang tak bisa melakukannya? Tanpa harus sekolah tinggi pun tak ada kesulitan. Benarkah demikian?
Kebanyakan orang mengira seorang wanita akan bisa menjalankan peran ibu begitu saja secara naluriah. Jika mengasuh anak hanya sekadar supaya mereka tumbuh besar sih, mudah. Tetapi untuk mendapatkan anak yang berkepribadian tinggi dan berakhlaq mulia, sama sekali bukan pekerjaan gampang. Tak ada jaminan gelar profesor akan membuatnya mampu.
Mengingat pendidikan anak sangat menentukan kualitas generasi masa depan ummat, maka menyepelekan peran ibu sangat berbahaya. Kenyataan membuktikan, bahwa kualitas generasi penerus ummat Islam berbanding lurus dengan kualitas ibunya.

Akar Masalah
Hingga saat ini, peran ibu rumah tangga belum ditempatkan pada posisinya yang tinggi. Beberapa penyebabnya adalah :
1. Kehidupan yang materialistis.
Apa yang menempati posisi paling penting dalam kehidupan saat ini? Kebanyakan orang akan menjawab, uang. Karena dengan uang, apapun dapat diperoleh. Begitu pentingnya arti uang bagi kehidupan sekarang menumbuhkan kenyataan bahwa masyarakat hanya menghargai pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan uang. Lahan- pekerjaan yang “basah” menjadi rebutan orang, sementara pekerjaan mulia yang bergaji kecil tak diminati kecuali bagi mereka yang tak memiliki pilihan lain. Apalagi lahan kerja rumah tangga yang tak menjanjikan gaji.
Pola hidup materialistis telah membuat orang menghormat uang dan mereka yang ber-uang. Ada uang, ada peluang. Bahkan harga diri pun diukur lewat keberadaan uang. Wajar, jika harga diri ibu rumah tangga pun terpuruk karenanya.
2. Tidak adanya pengakuan.
Salah satu pendukung tumbuhnya rasa percaya diri adalah faktor pengakuan dari lingkungan. Bila para wanita tidak percaya diri sebagai ibu rumah tangga, salah satu sebabnya memang karena banyak elemen masyarakat yang kurang bisa memberikan penghormatan kepada peran mulia ini.
Media massa, baik cetak maupun elektronik, penuh dengan artikel tentang keberhasilan karir kaum wanita di luar rumah. Gambar iklan senantiasa menampilkan wanita-wanita kantoran yang keren dan trendy. Kalaupun ada ibu rumah tangga, itu sekedar iklan sabun cuci.
Belum lagi merebaknya pandangan bahwa semua yang berbau modern adalah berasal dari dunia Barat. Padahal, dunia mereka cenderung mendiskreditkan keluarga. Keluarga dianggap sebagai pembatas kebebasan wanita, kian banyak orang benci pada pernikahan. Keluarga sebagai institusi sudah dianggap tak perlu. Keinginan hubungan seks maupun punya anak pun bisa diperoleh tanpa nikah. Perlahan (tapi pasti) peran ibu rumah tangga akan terhapus jika kecenderungan ini tak dihentikan.
Di sisi lain, para suamipun masih banyak yang belum bisa menghargai peran istrinya ini. Jangankan memberikan fasilitas kerja yang baik, memberi pujian pun tidak. Banyak yang berpendapat bahwa memang istri ditakdirkan untuk mengerjakan tugas-tugas rumah tangga. Akibatnya, merasa tak perlu memberikan imbalan apa-apa. Merasa tak perlu juga turun tangan membantu jika sang istri kerepotan.
3. Kualitas ibu yang rendah.
Ibu yang suka ngerumpi, ghibah, shopping, cucimata, serta menghabiskan waktu menonton sinetron di televisi memang bukan kabar burung. Penyakit-penyakit ini banyak menjangkiti kaum ibu, baik di kota maupun di desa. Tak dapat dipungkiri bahwa kondisi ini tidak terlepas dari faktor kurangnya pendidikan, opini suami dan masyarakat yang masih kurang menghargai istri. Hanya saja tidak adanya kesadaraan dari diri kaum ibu sendiri untuk memperbaiki diri menyebabkan citra ibu rumah tangga kian tercoreng.

Hebatnya Ibu
Pandangan miring terhadap peran ibu rumah tangga terlihat jelas dari banyaknya tuntutan yang diajukan oleh para feminis. Meski sebenarnya inti tuntutannya hanya satu, yaitu meminta persamaan hak dan kewajiban seperti pria.
Secara fisik dan mental tak dapat dipungkiri, wanita dan pria memang sangat berbeda. Wajar bila tugas, hak dan kewajiban kedua Makhluk Allah ini berbeda. Setiap yang diciptakan Allah selalu memiliki keistimewaan sendiri. Pria yang memiliki fisik jauh lebih kuat dari wanita, dapat menjadi pelindung, yang menjaga kehormatan seorang wanita. Dia pun dapat mencari nafkah untuk keluarganya, serta berjuang untuk menegakkan panji-panji agama Allah.
Sedang wanita? dengan kelembutan hati yang Allah karuniakan padanya, ia dapat memacu semangat suaminya dan kelurganya yang sedang berjuang. Dia pula yang menjaga rumah tangga dan kehormatan suaminya. Dari rahimnyalah terlahir mujahid-mujahid yang bahkan setingkat Abu Bakar Siddiq. Ditangannya pula terdidik pemimpin-pemimpin yang tangguh seperti Umar Bin Abdul Aziz, ulama-ulama yang hebat seperti Imam Syafi’i.
Wanita adalah makhluk Allah yang sangat hebat. Ingatlah hadits Rasulullah yang artinya, “Wanita adalah tiang negara, apabila dalam sebuah negara wanitanya baik, maka jayalah ia, namun apabila wanita di dalamnya buruk, maka hancurlah negara itu”.
Kehebatan seorang wanita makin tak terbantahkan kala Rasulullah memerintahkan kaum muslim untuk memuliakan kedudukan seorang ibu. Masih kurang kah semua itu? Semua itu lebih dari cukup. Bukankah tak ada yang paling mulia, selain mulia dihadapan Allah dan RasulNya?
Lihatlah keadaan yang selama ini terjadi, sekian banyak wanita yang meminta kebebasan meninggalkan rumah tangganya untuk mencari ketenaran diluar rumah. Buahnya, muncullah generasi yang kurang kasih sayang dan kelembutan seorang ibu. Akibatnya narkoba merajalela, tawuran di sana-sini, pergaulan bebas, seakan telah menjadi menu kita sehari-hari. Itukah wujud keperkasaan seorang wanita?
Bila demikian, masihkah kita merasa hina tinggal di rumah?

Oleh : Ustadzah Amin Justiana

Bila Jodoh Tak Kunjung Ada

Ujian senantiasa membersamai setiap kehidupan. Ia menjadi ketetapan yang kemudian menjadi pengukur kualitas kehidupan itu sendiri. Takaran ujian pada masing-masing pemilik hidup berbeda-beda, sesuai kapasitas takwanya di hadapan Alloh ta’ala. Semakin takwa hingga ringanlah seseorang dalam menjalankan aturan Alloh, niscaya makin beratlah ujian yang diterimanya. Sa’ad bin Abi Waqash pernah bertanya kepada Nabi SAW perihal orang yang terberat ujian hidupnya, “Wahai Rosululloh, siapakah orang yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab: “Para Nabi. Kemudian yang mengikuti mereka (orang-orang mulia). Kemudian yang mengikuti mereka (orang-orang mulia). Seseorang diuji sesuai dengan kadar dien (iman)-nya. Kalau imannya kokoh, maka berat pula ujiannya. Apabila imannya lemah, dia diuji sesuai dengan kadar imannya.(HR.Tirmidzi).
Tentu hadist tersebut tak bertujuan membuat kita enggan menguatkan keimanan alih-alih takut oleh semakin besarnya ujian. Orang orang mulia di sisi Alloh memang menerima ujian besar. Tapi jangan lupa, ketahuilah mereka juga menerima hidayah berupa hikmah yang juga besar. Hikmah di hati itulah yang menjadi semacam penawar. Kedekatan dengan Alloh ta’ala yang akan menghapuskan segala kegalauan dan kesedihan. Alloh ta’ala berfirman, “..maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqoroh : 38)
Jadi seberat apapun ujian, bila hati telah dipenuhi oleh iman, maka menjalaninya akan menjadi lebih ringan. Sebaliknya, walaupun seorang kaya raya katakanlah mendapat ujian hanya berupa hilang uang lima puluh ribu rupiah, maka akan terus dipikirkannya dengan susah payah. Karena ia masih sangsi bahwa urusan rizki sepertinya bukan urusan Alloh sepenuhnya.
Tak kunjung hadirnya jodoh adalah ujian yang mungkin masih tak temu dimana ujungnya. Setiap hari adalah penantian. Harapan-harapan pertemuan dengan sosok idaman itu kadang mendekat tapi tiba-tiba menjauh. Fitrah cinta sudah dipatri namun di tengah jalan sirna kembali. Alih-alih memalingkan diri dengan mengisi banyak kesibukan, ketika berinteraksi dengan teman sebaya yang sudah menikah, tiba-tiba menambah di hati rasa sedih dan keresahan. Dan saat menyendiripun, yang ada justru dimainkan oleh pikiran-pikiran yang semakin menambah kekalutan.
Resah akan jodoh yang tak kunjung hadir adalah wajar dan manusiawi. Namun, bila berlebihan menjadi tidak baik. Bahkan bukan tak mungkin syetan menjadikannya sebagai tali penarik untuk menjauhkan kita dari Alloh dan melupakan ke Maha Kuasaan-Nya. “Syetan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Alloh; mereka itulah golongan syetan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syetan itulah golongan yang merugi.” (Al-Mujadalah : 58)
Hidup kita sangat berharga, saudaraku. Jangan sampai habis energi oleh satu masalah sampai kita lalai untuk mensyukuri nikmat-nikmat lain yang Alloh telah berikan kepada kita. Nikmat sehat, nikmat rizki, nikmat orang tua, nikmat sahabat-sahabat yang setia, dan nikmat-nikmat lainnya harus mendapat tempat di hati untuk kita syukuri. Terutama syukur sebesar-besarnya atas nikmat bekal keselamatan akhirat, yaitu iman, yang masih melekat di hati kita.
Mudah-mudahan kesediaan mentafakkuri nikmat-nikmat Alloh itu yang akan mensegerakan kita bisa memperoleh hikmah atas ujian jodoh. Meringankan beban dan selanjutnya sanggup merasakan kemuliaan yang tersembunyi dibalik ujian. Sebagaimana yang disabdakan nabi, “Jika Alloh menginginkan atas diri hamba-Nya suatu kebaikan, maka Alloh akan mempercepat baginya cobaan di dunia, dan jika Alloh menginginkan atas diri hamba-Nya keburukan, maka dia akan menahan cobaan tersebut dengan semua dosanya hingga dia menebusnya pada hari kiamat” (HR. Tirmidzi)
Duduklah sejenak, dan renungkan sekali lagi sabda nabi tersebut saudaraku,
Bukankah setiap hari penantianmu adalah kebaikan karena engkau bersabar?.
Merugilah kita bila ternyata kesendirian ini adalah jalan dari Alloh untuk memuliakan hidup kita, namun, pikiran yang sempit dan su’uddzan (buruk sangka) kepada Alloh membuat kita menganggapnya sebagai ketidakadilan Alloh pada kita. Engkau akan menangisinya saudaraku, karena kasih sayang-Nya justru engkau balas dengan buruk sangka.
Renungkan juga firman Alloh berikut ini, “…Alloh tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Alloh berikan kepadanya. Alloh kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath-Thaalaq:7)
Percayalah janji Alloh, akan ada kelapangan sesudah kesempitan. Di dunia terlebih di akhirat. Selama kita mau bersabar. Bersabar bukanlah berdiam diri. Bersabar itu, kata tabi’in Al-Hakim At-Tirmidzi, adalah bergerak dan bertindak tanpa melanggar aturan Alloh.
Maka, berikhtiarlah seraya bersabar untuk tidak menembus batasan syariat Alloh. Berikhtiarlah sebagaimana seorang sahabat yang meminta kepada Rosululloh untuk dijodohkan dengan seorang wanita. Berikhtiarlah sebagaimana sikap mulia ibunda Khadijah yang menawarkan diri untuk dinikahi kepada Muhammad muda. Tak ada yang salah pada wanita yang menawarkan diri untuk dinikahi demi kemuliaan diri dan agamanya.
Saudaraku,
Barangkali ujian itu kita ragu bahwa itu benar-benar ujian. Atau kita ingin sejujurnya katakan, bahwa bisa jadi kesendirian ini adalah teguran atas kesalahan-kesalahan. Mengingat lisan ini sering mengatakan sabar namun sesungguhnya perbuatan kita tidak menunjukkan sabar. Jangan-jangan kita terlalu sombong di hadapan Alloh, merasa mampu mencari jodoh sendiri tanpa bersungguh-sungguh minta pertolongan-Nya, lantas berikhtiar menjemput jodoh tapi melanggar batas-batas ketentuan Alloh.
Jika hati jujur mengatakan iya, maka ketuklah pintu ampunan Alloh sekarang juga. Di setiap malam dalam tahajjud yang khusyuk mintalah keputusan terbaik-Nya. Dan berjalanlah dalam batas ikhtiar yang sudah digarisi-Nya. Jangan keluar batas. Insya Alloh, kelak ada satu diantara dua kemulian yang akan kita miliki. Yaitu menjadi hamba istimewa yang memperoleh kemuliaan Surga atas ujian di dunia atau segera menemukan pasangan terbaik yang membersamai kita dalam sakinahnya keluarga dan memberi keturunan yang sholih dan sholihah.
Lihatlah bagaimana kesabaran nabi Zakaria atas tak kunjung hadirnya seorang putra kemudian berbalas karunia keturunan yang sangat mulia. Rasakan kepiluan hati nabi Zakaria dalam doa yang diabadikan oleh Alloh dalam Al-Qur’an ini, tak jauh beda dengan apa yang kita rasakan, “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau, wahai Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul. Maka, anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadjikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai.” (QS. Maryam: 4-6).
Dan kesabaran, ketulusan, dan baik sangka Nabi Zakaria berbalas keturunan yang mulia. Alloh ta’ala berfirman : “Hai Zakaria sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (memperoleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” (QS. Maryam: 7).
Itulah nabi Zakaria. Dan siapakah kita, bila merasa tak perlu mendapat ujian dunia sedangkan dosa seakan masih menjadi teman tidur bagi kita?. Tak diujipun Nabi Zakaria adalah Nabi yang mulia. Sedangkan kita, dengan cara apatah lagi untuk menggugurkan dedaunan dosa kecuali dengan angin ujian yang menggoyahkan dahan jiwa. Sadarlah, beginilah cara Alloh menyayangi kita.
Lalu sebaliknya, jika tidak bersabar bisa juga akan ada satu diantara dua kehinaan yang akan didapatkan. Kecuali Alloh mengampuni. Yaitu, jodoh itu tetap tak kunjung hadir sedangkan hari-hari terlanjur diisi tumpukan dosa karena banyak mengeluh dan berikhtiar cari jodoh dengan kelewat batas. Lelah, habis tenaga, tapi tak ada gunanya. “Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.” (QS. Ibrahim : 21).
Atau lebih disayangkan, jodoh itu datang tanpa keridhoan Alloh. Istidraj atau hanya dipuas-puaskan saja. Maaf, seolah-olah Alloh memberikannya dengan cara hina laksana handuk kumal yang dilemparkan ke muka kita, “INIKAH JODOH YANG KAU INGINKAN HINGGA MELUPAKAN AKU, NIH AMBIL !!”, Naudzubillah..
Saudaraku, maka berikhtiarlah dalam bingkai kesabaran. Berdoalah dalam ketinggian khusnudzan kepada-Nya. Mudah-mudahan kita disegerakan berjumpa dengan pasangan sholih yang menuntun kita kepada kebaikan. Siapkan diri kita sepanjang waktu pada kondisi takwa terbaik. Hingga nanti saatnya ada “panggilan”, kita sudah siap untuk menyambutnya.
Ya Alloh, berilah kesabaran dan kelapangan hati kepada saudara-saudara kami yang Engkau uji dengan belum hadirnya pasangan hidup baginya. Karuniakan segera kepadanya pasangan yang Sholih-Sholihah sebagai balasan terbaik atas penantiannya. Muliakan ia dan masukkan mereka dalam Surga, demi kesabaran atas ujian yang telah Engkau berikan, Allohumma Amiiin…

Selasa, 01 Desember 2009

Menjadi Suami Teladan ala Nabi
Dani Hamdani, M.Pd*)


Pelayanan dan kebaikan sang istri sangat tergantung pada sikap sang suami terhadap istrinya, hal ini menunjukkan adanya hubungan berbanding lurus. Semakin baik perlindungan dan pengayoman sang suami terhadap istrinya, maka semakin baik pelayanan sang istri terhadap suaminya. Ketika sang suami mengharapkan sang istri menjadi seperti Khodijah, Aisyah atau istri Nabi lainnya, maka sang suami harus menjadi seperti Rasulullah.


Beberapa kiat menjadi suami teladan ala Nabi diantaranya :


  1. Berpenampilan rapih dan berdandan untuk istri, selalu bersih dan wangi.
Seorang suami yang menginginkan istrinya kelihatan manis untuknya, setiap istri juga menginginkan suaminya berdandan untuknya. Sebagai contoh, ingat, bahwa Rasulullah SAW selalu menggosok giginya sebelum menemui istrinya setelah bepergian. Beliau juga selalu menyukai senyum yang paling manis.


  1. Memanggil istri dengan panggilan nama yang cantik dan paling disukai.
Rasulullah SAW mempunyai nama panggilan untuk istri-istrinya yang sangat mereka sukai. Panggillah istri anda dengan nama yang paling indah baginya dan hindari menggunakan nama-nama yang menyakitkan perasaan mereka.


  1. Tidak memperlakukan istri seperti lalat.
Seekor lalat dalam kehidupan sehari-hari tidak pernah dihiraukan, tahu-tahu menjadi penyakit buat kita. Sama halnya seorang istri yang berbuat baik sepanjang hari, jika tidak pernah mendapat perhatian dari suaminya, maka ia juga akan memperlakukan suaminya bagai sebuah penyakit. Jangan sekali-kali perlakukan dia seperti ini, kenali semua kebaikan yang dia lakukan dan pusatkan perhatian padanya.


  1. Jika anda melihat kesalahan dari istri anda , cobalah untuk diam dan tidak berkomentar apapun!
Ini adalah cara Rasulullah SAW yang biasa beliau lakukan saat beliau melihat sesuatu yang tidak pantas dilakukan istri-istrinya (radhiyallahu’anhuma). Ini adalah teknik bagi seorang Muslim sebagai kepala rumah tangga.


  1. Senantiasa senyum untuk istri kapan saja melihatnya dan memeluknya sesering mungkin
Senyuman adalah shadaqah dan istri anda termasuk ummat muslim juga. Bayangkan hidup dengannya dengan senyum yang selalu tersungging. Ingatlah, sunnah juga menerangkan bahwa Rasulullah SAW selalu mencium istrinya sebelum pergi sholat ke masjid bahkan saat beliau sedang berpuasa.


  1. Berterima-kasihlah untuk semua kebaikan yang dilakukan istri.
Sekecil apapun yang istri lakukan buat suami, jangan sekali-kali menganggapnya sebagai hal sepele. Berterima-kasihlah, karena ucapan terima kasih sungguh berarti bagi istri dan akan terukir indah di hatinya. Ambil contoh, ucapan terima kasih ketika usai makan malam yang dia sediakan. Juga untuk kebersihan rumah dan selusin pekerjaan yang lainnya.


  1. Mintalah padanya untuk menulis sepuluh perbuatan terakhir yang telah anda lakukan untuknya yang membuat dia senang. Kemudian pergi dan lakukan itu kembali.
Mungkin agak sulit untuk mengenali apa yang membuat istri anda senang. Anda tidak perlu untuk bermain tebak-tebakan, tanyakan padanya dan kerjakan selama berulang-ulang selama hidup anda.


  1. Selalu menghibur dan mengabulkan keinginan sang istri.
Kadang-kadang seorang suami perlu mengabulkan permintaan istrinya. Rasulullah SAW memberikan contoh buat kita dalam sebuah kejadian ketika Shafiyyah radiyallahu’anha menangis karena dia (Shafiyyah) berkata bahwa beliau (Rasulullah) memberikan sebuah unta yang lamban. Rasulullah pun menyapu air matanya, menghiburnya, dan membawakannya sebuah unta yang lain.


  1. Penuh humor dan bermain-mainlah dengan istri.
Lihatlah betapa Rasulullah SAW pernah bertanding lari dengan istrinya Aisyah radhiyallahu’anha di sebuah padang, dan membiarkan Aisyah memenangkannya. Kapan saat terakhir kita melakukan hal seperti itu?


Ingatlah selalu sabda Rasulullah SAW :” Yang terbaik di antara kalian adalah yang memperlakukan keluarganya dengan baik. Dan aku adalah yang terbaik memperlakukan keluargaku.”


Jadilah yang terbaik. Dan jangan pernah lupa berdo’a kepada Allah Azza wa Jalla agar membuat pernikahan kita bahagia.

Minggu, 29 November 2009

 KENAPA PRIA BERUBAH

Ada banyak hal yang membuat sikap para pria terhadap pasangannya berubah. Tidak ada yang tidak berubah didunia ini selain perubahan itu sendiri. Apa pun  atau siapa pun pasti bisa berubah. Termasuk, sifat dan sikap pasngan anda. Bukan hanya berubah menjadi positif. Tetapi, juga bisa  berubah negtif.
Jika dulu sikapnya begitu manis, mungkin sekarang sering bikin gregetan. Dulu sangat perhatian, sekarang acuhnya nggak ketulungan. Dulu ingin itu selalu berusaha dituruti. Sekarang, dipaksa harus berusaha sendiri dan seterunya.
Dalam teori psikologi, manusia memang mengalami perubahan, sesuai tahap perkembangan yang dijalaninya. Baik perubahan fisik, kognitif, motorik maupun sosial.
Bukan hanya karena faktor usia atau waktu yang menyebabkan seseorang menjadi berubah. Melainkan juga beberapa hal berikut ini :

Makin beduit

Sebagai pria yang memiliki masa kecil kurang bahagia atau sebelumnya tidak pernah merasakan bahagianya hidup berkecukupan, bisanya terlena ketika akhirnya mampu menghidupi dirinya. Apalagi jika uang yang didapat berlebih.
Biasanya para pria lupa diri saat memiliki kelebihan uang dan bisa menciptakan kesenangan untuk dirinya sendiri. Semakin banyak uang yang diperoleh, semakin  ingin ia menghabiskannya dengan cara yang tidak biasa.
Misalnya, kalau dulu (saat belum punya uang lebih), ia menhabiskan setiap malam minggu hanya dengan menonton Tv dirumah,kini ia pergi bersama teman-temannya untuk  bermain bilyar atau melakukan kesenangan lainnya.
Bagi pria tipe ini, uang bisa  mengubah gaya hidup. Dengan berubahnya gaya hidup, maka ia akan terlihat keren dan berkelas di mata orang lain. Sehingga ia merasa lebih percaya diri dan mudah diterima dalam pergaulan sosialnya.
Selain itu,perubahan gaya hidup ini  juga menjadi kompensasi atas masa lalunya yang tidak berkecukupan. Atau, bisa juga mejadi sarana pembuktian pada orang-orang yangmengenalnya di masa lalu.

Kesibukan baru

Ketika pasangan memiliki kesibukan baru, biasanya ia menjadi lebih terfokus pada kesibukannya yang baru tersebut. Kesibukan baru yang dimaksud bisa berupa hobi baru dan sebagainya.
Misalnya, dulu tak suka main catur, namun sekarang karena teman dilimgkungannya suka main catur, akhirnya ia ‘tertular’. Setiap malam inginnya main catur melulu, sehingga atensi yang biasa ia berikan di malam hari berangsur-angsur berkurang.
Kesibukan baru yang lain, misalnya terkait dengan masalah keluarga. Jika dulunya orangtua pasangan anda masih sehat, namun ketika akhir-akhir ini sering sakit, tentunya secara otomatis  perhatian pasangan anda akan tercurah untuk orangtuanya.

Naik jabatan

Apa yang dialami pasangan anda di dunia pekerjaannya juga bisa membuatnya berubah. Misalnya, dari hanya seorang stf biasa kemudian diangkat menjadi kepala divisi pemasaran.
Trentu saja, jabatan baru membuat pasangan anda bertambah taggung jawabnya. Dan  jika hal tersebut membuat perhatiannya terhdap anda berubah, seringkali memang harus dimaklumi.
Sebab, tidak seperti wanita yang bisa menangani multitasking, pria hanya bisa fokus pada satu urusan saja dalam  satu waktu. Karena itu, jika ia sibuk dengan tanggung jawabnya yang baru dan tugas barunya, maka  sebagai pasangan, anda harus siap menerima perubahan. Termasuk,menerima jika ia harus pulang dari kantor lebih larut dari sebelumnya.

Wanita lain

Seperti yang ditunjukan ooleh survei bahwa 40 persen pria melirik wanita lain meski statusnya sudah menikah. Ketika hubungan dalam rumah tangga atau ikatan pacarannya dengan wanita sedang tidak harmonis atau dalam tahap kebosanan, pria memilih untuk melirik wanita lain.
Tak heran kalau perhatian yang diberikan pasangan kepada anda menjadi berkurang. Sebab, energinya untuk memberi perhatian sudah disalurkan pada wanita lain.

Pasangan berubah

Ini yang harus menjadi bahan instropeksi diri, pasangan anda bisa jadi berubah karena anda sendiri! Jadi, ketika pasangan merasa jika anda telah berubah, ia bisa ‘tertular’ dan ikut berubah.
Kalau sekarang anda sibuk dengan urusan pekerjaan, lebih dulu ia akan merasa tidak diperhatikan. Tak lama kemudian, ia yang tadinya penuh perhatian menjadi berkurang perhatiannya karena merasa telah anda acuhkan.

Selasa, 24 November 2009

Menjadi Ibu Rumah Tangga, Mengapa Harus Malu??


Ah,…Cuma ibu rumah tangga aja kok!” dengan malu-malu dan tersipu seorang akhwat menjawab pertanyaan kawannya tentang aktifitas apa yang di gelutinya sekarang. Sedangkan di kalangan ikhwan yang pernah penulis temui, ada diantara mereka yang malu untuk menjawab profesi istrinya bila istrinya bukan seorang dokter, insinyur, guru, atau profesi terhormat lainnya. Maka jawaban yang muncul adalah:
”biasa di rumah saja, mengurus anak-anak, Cuma ibu RT aja,… ga ada aktifitas lainnya!”
Duh, sebegitu hinakah profesi ini?
Padahal ketika penulis berinteraksi dengan wanita barat sewaktu di negeri Kanguru diantara mereka ada yang menjawab,
“Wow, profesi yang hebat tidak semua wanita mau menekuninya, I can’t do that!”
Ya,.. karena mereka melihat betapa sulitnya untuk menjadi istri sekaligus ibu yang baik bagi anak-anak. Saking beratnya, mereka memilih memasukkan anak-anak mereka di child care. Anda akan melihat dengan mata kepala sendiri panjangnya daftar antrian para orangtua yang ingin memasukkan anak-anak mereka ke tempat penitipan anak (childcare). Anda harus menunggu minimal selama 6 bulan sebelum nama anak anda di panggil. Rata-rata mereka memilih bekerja daripada mengasuh anak dirumah.
Suatu fakta yang tidak bisa di pungkiri bahwa para ibu dikalangan wanita barat memilih “melarikan diri” dari tugas dan tanggungjawabnya sebagai ibu dengan bekerja. Mereka bilang kepada penulis lebih mudah bekerja daripada tinggal dirumah mengasuh anak.Mengasuh anak membuatku stress! Itu yang penulis dengar. Bukankah itu suatu bukti bahwa mengurus anak-anak adalah suatu pekerjaan dan tanggung jawab yang berat? Lalu dimana penghargaan masyarakat kita terhadap ibu? Terlebih suami?
Itu baru dilihat dari satu sisi saja,…tidakkah anda melihat bahwa seorang istri atau ibu dirumah tidak pernah berhenti dari tugasnya?.Jika para suami mempunyai jam kerja yang terbatas antara 8-10 jam misalnya maka sesungguhnya seorang ibu rumah tangga mempunyai jam kerja yang lebih panjang yaitu selama 24 jam. Ia harus standby (selalu siap) kapan saja diperlukan. Bila diantara anggota keluarga ada yang sakit, siapakah yang bergerak terlebih dahulu? Bukankan seorang ibu/istri adalah dokter pribadi sekaligus perawat (suster) bagi suami dan anak-anaknya? Karena beliaulah yang akan berusaha meringankan beban sakit “sang pasien” dirumah sebelum di bawa kerumah sakit (yang sebenarnya) apabila ternyata sang ibu tidak sanggup mengobatinya. Pernahkah anda memikirkan berapa jumlah uang yang harus anda keluarkan untuk membayar seorang dokter dan perawat pribadi dirumah anda?
Bukankah seorang ibu juga seorang psikolog? Karena tentu anda melihat sendiri kenyataan ketika datang anak-anak mengeluh dan mengadu atas kesusahan atau penderitaan yang mereka alami maka sang ibu berusaha mencari jalan keluar dengan saran, nasehat dan belaian kasih sayang. Begitupula suami ketika merasa resah dan gelisah bukankah istri menjadi tempat curahan? Tak jarang para istri membantu suami meringankan dan memberi jalan keluar terhadap masalah yang sedang dihadapinya. Penulis lihat sendiri betapa mahalnya bayaran seorang psikolog di Australia ada diantara mereka yang harus membayar $100 perjam dan tentu saja tidak ada jaminan mereka bisa membantu menyelesaikan masalah yang sedang anda hadapi.
Bukankan seorang istri/ibu dituntut untuk pandai memasak? Pernahkah anda membayangkan wahai para suami, anda memiliki juru masak dirumah yang selalu siap anda perintah kapan saja anda mau. Anda memiliki juru masak pribadi dirumah, ketika anda pulang ke rumah maka hidangan lezat tersedia bagimu dan juga untuk anak-anakmu. Pernahkah anda membayangkan berapa juta uang yang harus anda keluarkan untuk mengundang juru masak pribadi datang kerumah anda?
Masih banyak sisi lain yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu. Anda tentu pernah membaca syair Arab yang sangat terkenal yang berbunyi:
”Al-Ummu madrasatun idza a’dadtaha ‘adadta sya’ban tayyibul ‘araq” maknanya “seorang ibu adalah sebuah sekolah. Jika engkau persiapkan dia dengan baik maka sungguh engkau telah mempersiapkan sebuah generasi yang unggul”.
Ditangan ibulah masa depan generasi sebuah bangsa.Karena itulah islam sangat menghormati dan menghargai profesi ini. Kenyataan yang tidak bisa di pungkiri bahwa kedudukan ibu tiga kali lebih tinggi dibandingkan sang ayah.
Karena Islam melihat tanggung jawab yang berat yang di emban seorang ibu, itu menandakan bahwa menjadi seorang ibu rumah tangga adalah profesi yang mulia dan sangat terhormat. Lalu mengapa kita masih malu ya ukhti?? Ayo,..angkatlah wajahmu dan katakan dengan bangga bahwa aku adalah seorang “ibu rumah tangga!!” sebuah profesi yang sangat berat dan tentu saja pahala yang sangat besar Allah sediakan untukmu. Al-jaza’u min jinsil amal artinya balasan tergantung dari amal/perbuatan yang ia lakukan.Semakin berat atau sulit sebuah amal dilakukan seorang hamba maka pahala yang akan didapatinya pun semakin besar. Wallahu a’lam bisshawwab.
Muraja’ah oleh: Ustadz Eko Hariyanto Lc