Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Desember 2009

Bercermin Diri

Dalam keseharian kehidupan kita, begitu sangat sering dan nikmatnya ketika kita bercermin. Tidak pernah bosan barang sekalipun padahal wajah yang kita tatap itu-itu juga, aneh bukan?! Bahkan hampir pada setiap kesempatan yang memungkinkan kita selalu menyempatkan diri untuk bercermin. Mengapa demikian? Sebabnya kurang lebih karena kita ingin selalu berpenampilan baik, bahkan sempurna. Kita sangat tidak ingin berpenampilan mengecewakan, apalagi kusut dan acak-acakan tak karuan. Sebabnya penampilan kita adalah juga cermin pribadi kita. Orang yang necis, rapih, dan bersih maka pribadinya lebih memungkinkan untuk bersih dan rapih pula. Sebaliknya orang yang penampilannya kucel, kumal, dan acak-acakan maka kurang lebih seperti itulah pribadinya.
Tentu saja penampilan yang necis dan rapih itu menjadi kebaikan sepanjang niat dan caranya benar. Niat agar orang lain tidak terganggu dan terkecewakan, niat agar orang lain tidak berprasangka buruk, atau juga niat agar orang lain senang dan nyaman dengan penampilan kita.
Dan ALLAH suka dengan penampilan yang indah dan rapih sebagaimana sabda Nabi Muhammad S.A.W , “Innallaha jamiilun yuhibbul jamaal”, “Sesungguhnya ALLAH itu indah dan menyukai keindahan”. Yang harus dihindari adalah niat agar orang lain terpesona, tergiur, yang berujung orang lain menjadi terkecoh, bahkan kemudian menjadi tergelincir baik hati atau napsunya, naudzhubillah. Tapi harap diketahui, bahwa selama ini kita baru sibuk bercermin “topeng” belaka. Topeng “make up” , seragam, jas, dasi, sorban, atau asesoris lainnya,. Sungguh, kita baru sibuk dengan topeng, namun tanpa disadari kita sudah ditipu dan diperbudak oleh topeng buatan sendiri. Kita sangat ingin orang lain menganggap diri ini lebih dari kenyataan yang sebenarnya. Ingin tampak lebih pandai, lebih gagah, lebih cantik, lebih kaya, lebih sholeh, lebih suci dan aneka kelebihan lainnya. Yang pada akhirnya selain harus bersusah payah agar topeng ini tetap melekat, kita pun akan dilanda tegang dan was-was takut topeng kita terbuka, yang berakibat orang tahu siapa kita yang aslinya. Tentu saja tindakan tersebut, tidak sepenuhnya salah. Karena membeberkan aib diri yang telah ditutupi ALLAH selama ini, adalah perbuatan salah. Yang terpenting adalah diri kita jangan sampai terlena dan tertipu oleh topeng sendiri, sehingga kita tidak mengenal diri yang sebenarnya, terkecoh oleh penampilan luar. Oleh karena itu marilah kita jadikan saat bercermin tidak hanya “Topeng” yang kita amat-amati, tapi yang terpenting adalah bagaimana isinya, yaitu diri kita sendiri.
Mulailah amati wajah kita seraya bertanya, “Apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya bersinar indah di surga sana ataukah wajah ini yang akan hangus legam terbakar dalam bara jahannam?”
Lalu tatap mata kita, seraya bertanya, “Apakah mata ini yang kelak dapat menatap penuh kelezatan dan kerinduan, menatap ALLAH Yang Mahaagung, menatap keindahan surga, menatap Rasulullah, menatap para Nabi, menatap kekasih-kekasih ALLAH kelak? Ataukah mata ini yang akan terbeliak, melotot, menganga, terburai, meleleh ditusuk baja membara? Akankah mata terlibat maksiat ini akan menyelamatkan? Wahai mata apa gerangan yang kau tatap selama ini?”
Lalu tataplah mulut ini, “Apakah mulut ini yang di akhir hayat nanti dapat menyebut kalimat thoyibah, “laillahailallah”, ataukah akan menjadi mulut berbusa yang akan menjulur dan di akherat akan memakan buah zakun yang getir menghanguskan dan menghancurkan setiap usus serta menjadi peminum lahar dan nanah? Saking terlalu banyaknya dusta, ghibah, dan fitnah serta orang yang terluka dengan mulut kita ini!”
“Wahai mulut apa gerangan yang kau ucapkan? Wahai mulut yang malang betapa banyak dusta yang engkau ucapkan.
Betapa banyak hati-hati yang remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam? Berapa banyak kata-kata manis semanis madu palsu yang engkau ucapkan untuk menipu beberapa orang? Betapa jarangnya engkau jujur? Betapa jarangnya engkau menyebut nama ALLAH dengan tulus? Betapa jarangnya engkau syahdu memohon agar ALLAH mengampuni?”
Lalu tataplah diri kita tanyalah, “Hai kamu ini anak sholeh atau anak durjana, apa saja yang telah kamu peras dari orang tuamu selama ini dan apa yang telah engkau berikan? Selain menyakiti, membebani, dan menyusahkannya. Tidak tahukah engkau betapa sesungguhnya engkau adalah makhluk tiada tahu balas budi!
“Wahai tubuh, apakah engkau yang kelak akan penuh cahaya, bersinar, bersukacita, bercengkrama di surga atau tubuh yang akan tercabik-cabik hancur mendidih di dalam lahar membara jahannam terasang tanpa ampun derita tiada akhir”
“Wahai tubuh, berapa banyak maksiat yang engkau lakukan? Berapa banyak orang-orang yang engkau dzhalimi dengan tubuhmu? Berapa banyak hamba-hamba ALLAH yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu? Berapa banyak perindu pertolonganmu yang engkau acuhkan tanpa peduli padahal engkau mampu? Berapa pula hak-hak yang engkau napas?”
“Wahai tubuh, seperti apa gerangan isi hatimu?Apakah tubuhmu sebagus kata-katamu atau malah sekelam daki-daki yang melekat di tubuhmu? Apakah hatimu segagah ototmu atau selemah atau selemah daun-daun yang mudah rontok?
Apakah hatimu seindah penampilanmu atau malah sebusuk kotoran-kotaranmu?”
Lalu ingatlah amal-amal kita, “Hai tubuh apakah kau ini makhluk mulia atau menjijikan, berapa banyak aib-aib nista yang engkau sembunyikan dibalik penampilanmu ini?” “Apakah engkau ini dermawan atau sipelit yang menyebalkan?” Berapa banyak uang yang engkau nafkahkan dan bandingkan dengan yang engkau gunakan untuk selera rendah hawa nafsumu”.
“Apakah engkau ini sholeh atau sholehah seperti yang engkau tampakkan?
Khusukkah shalatmu, dzikirmu, doamu, .ikhlaskah engkau lakukan semua itu?
Jujurlah hai tubuh yang malang! Ataukah menjadi makhluk riya tukang pamer!”
Sungguh betapa beda antara yang nampak di cermin dengan apa yang tersembunyi, betapa kita telah tertipu oleh topeng? Betapa yang kita lihat selama ini hanyalah topeng, hanyalah seonggok sampah busuk yang terbungkus topeng-topeng duniawi”
Wahai sahabat-sahabat sekalian, sesungguhnya saat bercermin adalah saat yang tepat agar kita dapat mengenal dan menangisi diri ini.
mari kita renungkan semuanya.
semakin kerdil diriku…. semakin tak kupahami…
betapa jernihnya karunia-Mu dan….
sejuknya kasih sayang-Mu….. ya Allah….
hingga sudah berapa nikmat-Mu yang aku dustakan…..
VN:F [1.6.8_931]

Rahasia Kebahagiaan Sejati

kebahagiaan-sejatiKetika kita telah memilih untuk berbahagia, kita dituntut untuk mendefenisikan kembali tentang konsep kebahagiaan yang kita miliki. Kita belajar merasakan kepenuhan diri. Kita memeriksa kembali, dimana kita meletakkan keyakinan kita. Dan kita selalu punya kemungkinan dan harapan. Maka kita telah memasuki pintu gerbang kebahagiaan sejati. Kita siap untuk masuk ke dalamnya. Tetapi apakah Anda sudah membawa kuncinya?
Kebahagiaan sejati adalah kelemahlembutan, kedamaian, konsentrasi, kesederhanaan, pengampunan, humor, keberanian, kepercayaan dan kekinian. Defenisi kebahagiaan yang dijelaskan oleh Hugh Prather. Ini tidak hanya menjelaskan bagaimana wujud dan rasa kebahagiaan itu, melainkan juga di mana dan bagaimana kita bisa meraihnya. Lihatlah, bahwa tidak ada satupun unsur yang disebutkan di atas merupakan kondisi-kondisi di luar diri kita. Mereka semua adalah sikap, pandangan, pilihan-pilihan yang dapat kita buat.
Kebahagiaan sejati ada di dalam diri kita sendiri. Kita bisa menciptakannya, bukan mencarinya. Kita bisa merasakannya. Kebahagiaan sejati tidak ada diluar sana. Kita tidak perlu mencari ke sana kemari. Kita mampu untuk menciptakannya.
Kita merasakan kelemahlembutan dengan bersikap lemah lembut. Merasakan kedamaian pikiran dengan berperilaku penuh damai. Merasakan konsentrasi dengan menggunakan batin dan kebahagiaan. Menemukan kesederhanaan dengan menyederhanakan pikiran, sikap, kepercayaan dan gaya hidup kita. Kita merasakan rahmat pengampunan dengan mengampuni kesalahan orang lain terhadap diri kita. Kita menjadi ceria dengan memilih persepsi humor. Kita menjadi berani dengan menghadapi ketakutan kita yang terpendam dan menyerahkannya kepada Kekuatan Yang Lebih Tinggi. Kita mulai menemukan kepercayaan dengan membiarkan Kekuatan Yang Lebih Tinggi itu berkarya dalam hidup kita. Dan saat untuk melakukan semua itu adalah saat ini juga.
Kini mari kita memaknai kebahagiaan sebagai kesejahteraan kita yang paling tinggi. Mari kita memusatkan diri kita pada konsep baru kebahagiaan pada saat kita menghadapi tantangan-tantangan hidup sehari-hari. Yang pertama, berbahagialah. Biarkan kebahagiaan batin Anda yang alami memandu Anda melakukan pilihan. Lakukan aktivitas sehari-hari Anda dan atasi masalah apapun yang terjadi. Raihlah kehidupan lahiriah apapun yang Anda kehendaki, namun ingatlah kehidupan lahiriah itu sendiri tidak akan menciptakan kebahagaiaan Anda. Dan jika kehidupan lahiriah Anda tidak memuaskan, Anda akan tetap baik-baik saja. Biarkan kebahagaiaan sejati datang dari batin Anda dan mengambil tempat yang cocok di tengah-tengah kehidupan Anda.

Kesepian Yang Menyenangkan

“Bila Anda belajar untuk bahagia dengan hidup sendirian, Anda akan selalu dapat menemukan cara untuk bahagia.”
Marshall Sylver.
inspirasi-kesepianKita tidak akan pernah memerlukan peneguhan orang lain bila kita merasa puas hidup sendirian. Bila anda belajar menikmati hidup sendirian, bukan hanya menoleransinya, tetapi benar-benar menikmati pengalaman hidup sendirian, Anda tidak akan bisa kesepian.
Mengapa kita kadang merasa kesepian diantara begitu banyak teman kita? Karena kita punya keinginan obsesif terhadap mereka. Kita takut kehilangan mereka. Kita berpikir seharusnya mereka berbuat begini dan begitu yang sesuai dengan keinginan kita. Dan ketika hal itu tidak terjadi, kita merasa ditinggalkan. Kita merasa kesepian.
Bila Anda mengetahui bahwa Anda bisa mendapatkan sesuatu kapanpun Anda inginkan, keinginan-keinginan obsesif akan lenyap. Dan ketika kita belajar menikmati kesendirian, orang lain akan merasakan hilangnya tekanan dari diri kita untuk bertemu. Tetapi sebenarnya mereka malah ingin lebih sering bertemu, karena kita tidak memerlukan mereka, kita hanya menginginkan mereka. Menginginkan adalah memerlukan tanpa disertai syarat-syarat tertentu.
Salah satu cara terbaik untuk menikmati kesendirian adalah dengan mengubah kata-kata yang kita gunakan saat berbicara pada diri sendiri atau orang lain tentang kesendirian itu.
Mana yang terasa lebih baik bagi Anda: “Aku harus sendirian hari ini!”, atau “Aku harus menjalani hari ini berama diriku sendiri!”. Atau Anda memberitahukan seseorang bahwa Anda akan menjalani hari ini bersama sahabat terbaik Anda, dan ketika ditanya siapakah sahabat Anda itu, Anda menjawab dengan ceria: “Diri saya sendiri.”
Ingatkah Anda terakhir kali berpenampilan terbaik? Dalam rangka acara apa dan untuk siapa Anda melakukannya? Cobalah Anda mengulanginya lagi dan bercerminlah, lihatlah “Sahabat Anda”, dan katakanlah: “Tampan/ cantik sekali!”
Bagaimana persaan Anda saat itu?
Anda akan dapat memahami bahwa bagaimana perasaan Anda tentang kesendirian merupakan cerminan langsung pada harga diri Anda sendiri. Jika Anda tidak benar-benar mencintai diri Anda sendiri, bagaimana gerangan Anda dapat mengharapkan orang lain untuk mencintainya?

Mengapa Kehidupan Tidak Pernah Mudah dan Sederhana?

Karena itu tidak menarik. Tidak berwarna.
motivasi-kehidupan
Ketika segala sesuatunya menjadi lebih sederhana dan mudah, kehidupan terasa hambar. Tiada tantangan. Maka kita akan membuatnya jadi lebih kompleks dan sulit. Kita akan mencari tantangan baru. Kita mencari masalah baru. Dan saat segala sesuatunya menjadi lebih sulit, kita ingin menjadi mudah. Kita ingin menyederhanakannya. Sudah menjadi sifat manusia seperti itu. Ada keinginan untuk selalu mencoba sesuatu yang lain dari yang sudah diketahuinya. Sehingga kehidupan kita tidak akan pernah sederhana.
Ketika seseorang ingin kaya, tetapi jalannya terlalu lama dan berliku, penuh dengan tantangan berat, mungkin dia mengambil jalan pintas. Lalu, ada kesempatan bagus, dia korupsi. Berusaha menyederhanakan dan mempermudah jalan kehidupannya. Melewatkan pelajarannya. Sebaliknya ketika anda sudah mencapai satu bisnis yang cukup sukses dan besar, yang telah membuat anda kaya, anda mungkin akan mencari tantangan baru. Merambah ke bidang lain. Mendirikan perusahaan yang lebih besar lagi. Bukan hanya alam yang menjadikan hidup kita rumit dan sulit, tetapi juga diri kita sendiri.
Ketakutan dalam diri juga akan semakin bikin hidup lebih rumit. Ini adalah pelajaran yang paling kita takutkan. Menghadapi ketakutan kita. Apakah anda dengan gagah berani menghadapi rasa takut anda? Mudah-mudahan ya…. Ketakutan ada agar kita bisa belajar. Kalau rasa takut tidak ada, kita akan celaka – kita akan turun dari lantai 10 ke lantai 1 langsung meloncat begitu saja. Tetapi ketakutan harus tetap dihadapi. Itulah satu-satunya cara mengalahkan rasa takut kita. Dimana ketakutan anda berada, disitulah pelajaran paling berharga sedang menunggu anda. Disanalah sumber yang anda cari. Disanalah anda didorong untuk bertumbuh.
Keinginan untuk memperpendek proses belajar juga akan semakin membuat hidup ini tidak lagi sederhana. Kita ingin naik dari lantai 1 ke lantai 10 tanpa melalui lantai 2. Mungkinkah? Proses belajarnya tidak akan bisa kita persingkat. Tetapi waktu yang kita butuhkan untuk belajar, bisa kita percepat. Proses belajar kita tetap selangkah demi selangkah. Hidup ini ibarat sederet anak tangga. Pijakan demi pijakan. Pelajaran demi pelajaran. Kita harus memastikan bahwa pijakan kita telah mantap pada anak tangga yang satu, baru melangkah ke pijakan berikutnya. Anda bisa melewati 20 anak tangga dalam 20 detik atau 1 jam. Terserah anda. Anda bisa mempercepat waktu belajar anda dalam satu fase kehidupan atau memperlambatnya. Tetapi tidak bisa melompatinya. Anda tidak bisa menjalani hidup hari senin, lalu begitu anda bangun, ternyata anda sudah berada pada hari jumat. Atau anda ingin melompati masa-masa umur 30-an. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, day by day, and ………….. kita tidak menyadari bahwa kita telah berumur 50 tahun. Coba anda bayangkan seharusnya berapa banyak materi pelajaran yang telah kita lahap selama kita hidup……

Rabu, 02 Desember 2009

Kesendirian

Ketika deru waktu selalu mengejar-ngejarmu, ke sudut manakah kau akan bersembunyi?
Saat gelombang kehidupan menghempaskanmu dalam bebatuan penderitaan, kepada siapa kau akan berkeluh kesah.
Ketika tumpukan pekerjaan menguras seluruh energi hari-harimu, kemanakah kau akan mencari energi baru.
Saat kelokan kehidupan telah menyesatkan jalanmu, kemanakah kau akan berpaling mencari petunjuk.
Ketika waktu telah melupakan dirimu, dimanakah kau akan mencarinya.
Saat dunia sekelilingmu tidak lagi mengenalmu, kemanakah kau akan bercermin untuk melihatnya.
Ketika dirimu sendiri tidak ingat lagi wajah itu, kepada siapakah kau akan bertanya, “SIAPAKAH SAYA”?
GOING IN……….
kesendirian
Masuklah.

Pergilah ke dalam jiwamu.
Nikmatilah dirimu sendiri. Menyendirilah.
Mereka tidak penting lagi. Kaulah pemeran utamanya.
Mereka telah membutakan matamu. Menutup telingamu. Menghancurkan nuranimu. Meremukkan hatimu. Merenggut jiwamu
Masuklah kedalam guamu. Nikmati kesendirian jiwamu. Rasakan kesendirian merasuk jauh ke lubuk sanubarimu.
Tapi,
ketika kesendirian telah merenggut hasratmu, dengan apakah mereka kau nyalakan kembali
saat kesendirian menutup pintu terowongan kehidupan bagimu, dengan cahaya apakah kau akan berjalan.
Ketika kesendirian memutuskan rajutan harapanmu, dengan benang apakah mereka kau sulam kembali.
Saat kesendirian mengaburkan gambaran impianmu, dengan tinta apkah mereka kau perjelas kembali.
Ketika kesendirian telah meninabobokanmu dalam alam mimpi, siapakah yang kau panggil untuk membangunkanmu?
Saat kesendirian telah membuatmu lupa kepada waktu, siapakah yang akan mengingatkanmu?
Ketika kesendirian telah merenggut duniamu, ke planet mana kau akan mencarinya?
Saat kesendirianmu hanya ditemani oleh nyamuk-nyamuk yang mau menyedot darahmu, apa yang mereka katakan, apakah mereka berterima kasih karena kau telah memberi mereka makan?
Ketika kesendirianmu hanya diiringi kepulan asap rokok, maukah mereka membawakan impianmu?
Saat kesendirian telah menjauhkan teman-temanmu, kepada siapakah kau akan bercerita.
Ketika kesendirian telah memenuhi duniamu, ke dunia manakah kau akan pergi?

Saat kesendirian telah menghapus warna kehidupanmu, masih tegakah kau menjalani hidup tanpa warna? (hitam dan putih juga merupakan warna)

ketika kesendirian telah menutup pintu hatimu, dengan kunci apakah mereka akan kau buka kembali?
Saat kesendirian telah merusak jalan pikiranmu, dengan apakah mereka akan kau bangun kembali.
Ketika kesendirian telah membuatmu lupa akan dirimu, dimanakah dia akan kau cari?
GET OUT THERE..
Keluarlah.

Kamis, 19 November 2009

Kemesraan yang salah tempat

Pernikahan menyebabkan hal yang haram menjadi halal. Manusia mempunyai banyak kecenderungan mengekspresikan perasaannya (pada orang lain). seperti ekspresi cinta pada pasangannya: ingin dicintai, mencintai. Ekspresi itu boleh dengan berbagai cara: berupa perhatian, kata lemah lembut, bermesra-mesraan. Bentuk bermesra-mesraan bisa dilakukan dengan selalu berdua, nyaman, romantis, manja dan dimanja, dan sebagainya.  Seperti yang diterangkan dalam QS. Ar Rum 21, artinya: “dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan di antaramu rasa kasih dan saying. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.
Tumbuhnya rasa kasih-sayang pada satu pasangan adalah wajar pada masa pacaran, tapi sayang setelah menikah menjadi semakin kendur. Menjaga kemesraan bisa dilakukan dengan komunikasi, atau makan berdua meski sudah punya anak. Kemesraan adalah bumbu keharmonisan keluarga, Mesra adalah tergantung pandangan yang ada, misalnya dengan kata-kata dan pengorbanan yang dilakukan. Bermesraan di depan orang banyak, bagaimana menurut Islam?, jelas tidak diperkenankan. Namun pernikahan mampu merubah yang tadinya haram menjadi halal, berpegang tangan, berpelukan, berciuman menjadi halal, tetapi tetap tidak boleh dilakukan di depan umum. Bermesraan identik dengan bersentuhan fisik. Islam menyarankan bermesraan sebagai bentuk kepedulian satu dengan yang lain, menjaga kemesraan, saling perhatian, rindu, kangen dan sebagainya
Nabi mengatakan: Sesungguhnya lelaki yang memandang istrinya dan sebaliknya maka Allah akan memberikan Rahmat-Nya, jika saling memegang tangan maka akan dihapus dosanya. Mesra ditempat umum, jangan terlalu berlebihan. Asal ditempat aman dan tidak menimbulkan ekses negatif.
Hubungan suami-istri yang halal, ditampilkan kepada umum bisa menjadikan dosa, karena membuat orang menjadi terbakar syahwatnya, menjadi dosa bagi kita yang melakukannya.Namun fenomenanya sekarang, kemesraan suami istri begitu diumbar dengan tidak malu-malu lagi, berpelukan, berciuman yang kadang membuat risih orang yang berada di sekitar. fenomena tak kalah juga sering kita temui di situs jejaring yang sedang ngentrend saat ini seperti facebook dan twitter, alih- alih kata rayuan sayang, cinta dan hal-hal yang tak sepatutnya di utarakan oleh suami isteri didepan publik, apalagi di ruang maya, malah di umbar sesukanya yang kadang membuat risih orang yang membacanya.
Kemesraan suami isteri merupakan rahmat-Nya yang harus selalu dijaga oleh setiap pasangan suami isteri untuk melanggengkan bahtera rumah tangga, tetapi kemesraan juga bisa menjadi dosa dan menimbulkan fitnah bila dilakukan tidak pada tempatnya.

Minggu, 15 November 2009


Caramu Mencintaiku…

terkadang… aku merasa kau tidak mencintaiku
terkadang… aku merasa tidak berarti bagimu
terkadang… aku merasa kau mengacuhkanku
dan menghilang berhari-hari tanpa mengabariku
keketusanmu kadang bisa sangat menyebalkan
kegaranganmu terkadang membuatku tak nyaman
kesibukanmu kadang membuatku terabaikan
dan kemisteriusanmu sangatlah mengesalkan
jadi, aku diam dan berfikir…
apa yang membuatku mencintaimu?
~ ~ ~
mungkin karena keindahan jiwamu
yang mengajarkan bijak kepadaku
atau mungkin karena kebaikan hatimu
karena kau tak ingin menyakiti orang lain
yang pasti, karena caramu tersenyum
caramu tertawa sampai bahumu bergetar
caramu menatapku dengan kelembutan yang dalam
caramu membiarkanku bersandar pada dadamu yang bidang
dan menjaga agar kepalaku tetap diposisi yang nyaman
caramu selalu membiarkanku menang untuk hal-hal kecil
caramu bersikeras menang untuk hal-hal yang lebih besar
caramu memegang tanganku dan membuatku merasa aman
caramu melindungiku dan sabar meredakan aku dalam kemarahan
caramu mengalah tapi lalu membuatku merasa bersalah
caramu berkata tegas dalam satu kalimat yang lugas
caramu merengkuh bahuku dan membuatku merasa sangat kecil
caramu menyentuhku dan menciptakan keajaiban di duniaku
~ ~ ~
caramu mencintaiku, itulah yang membuat aku mencintaimu
hal-hal kecil yang kau lakukan, namun sangat berarti bagiku…